Showing posts with label Jalan Angin. Show all posts
Showing posts with label Jalan Angin. Show all posts

Saturday, May 18, 2013

JalanAngin #LukaDuka #AlfonsusDJ #3


Luka Duka

Karena kau ingat aku
Jangan kau cabut rumput ini
Jika kusirami kembali






















------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alfonsus namanya. Small man with great brain!. Mengapa demikian? Karena anak satu ini adalah anak percepatan di Smansa. Anak percepatan yang juga memilih menjadi "anak angin". Disaat kita bolos, dispen, ga buat PR dan dia juga melakukan hal yang sama, namun tetap saja dia lulus lebih cepat daripada teman-teman seangkatannya.

Kalau tidak salah ketika latihan untuk MAS (Malam Apresiasi Sastra) bapaknya Alfon datang dan langsung mendamprat ketua teater Angin saat itu, a.k.a Arya Dongkang. Wah, lumayan seru juga ketika itu. "Kamu tahu anak saya itu kelas percepatan! bla bla bla blaaaa... hahahaha. Sekarang baru saya menyadari bahwa ketika SMA dulu memang jam latihan sudah kelewatan (up to 10:00 P.M) dan sebenarnya tidak baik juga untuk kesehatan.

Salut lah untuk teman kita satu ini. Kerjanya pun yahud banget sekarang, denger-denger sih kerja di salah satu perusahaan oil n gas asing gtu. Saat ini pun sedang ikutan training di Luar Negeri, Rusia kayaknya. MManntappp, anak angin lo ini.. ^_^
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Monday, May 13, 2013

JalanAngin# KeringNiatku #FebbyWidianto #2

Aku rindu kesederhanaan
Yang selalu kutenggak
Bersama angin
     dan dunia kecil

Sketsa oleh: Suardana
*sudah mendapatkan izin untuk dipublikasikan
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dulu dikenal suka bermusik, punya suara yang pantaslah untuk bernyanyi (kalau dibandingkan dengan saya bagai kecoa dan rajawali kali ya suaranya). Tentu saja saya kecoanya ^_^

Dulu juga dikenal suka mengutak - atik peralatan elektronika sehingga dinobatkan sebagai Dimmer Player Teater Angin :). 

Saya mengenal Febby sebagai anak yang pintar dan cerdas. Buktinya simple aja, lolos SPMB Teknik Elektro ITS, waahh ajee gilee kaann. Saya SPMB Teknik Elektro UGM saja tidak lolos (emang dasar cuma bisa koar-koar seperti tulisan di blog ini doank). Sayang ente waktu kuliah terlalu sibuk "kuliah" jadi ga sempet nyanyi lagu "Terlalu Manis Slank" lagi (ckckckck, kenapa selalu lagu ini ya yang saya sebutkan). 

Kalau ke Jakarta kabarin ya kawan, kali aja ada waktu buat nge "bintang". Atau sudah tobat??? -peacenoffence)

Kata pak Warih, ini adalah salah satu puisi pendek yang utuh, tapi memang belum sekuat sajak haiku (Jepang) dan bukan mustahil suatu hari nanti mereka akan berusaha untuk menyamainya. Gimana bro? Lanjut? :).

Puisi ini juga sempat dijadikan musikalisasi oleh rekan - rekan Barak dan ditampilkan hanya sekali ketika buku puisi ini diluncurkan di Toko Buku Toga Mas Jalan Hayam Wuruk Denpasar. Canggih yaaa, puisi pendek, hanya beberapa kata namun menjelma menjadi musikalisasi yang menawan.

Cuk!! Tulisanku lebih cerewet dan tidak bermakna bila dibandingkan dengan puisinya yang sederhana namun penuh makna. Cukup sekian dan terimakasih.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sunday, May 12, 2013

JalanAngin #LoncengTakBernada #GitaRaditya #1

Fajar menanti mentari
Dalam sepenggal cerita
Yang kutulis dalam ingatan
Beserta lonceng hati

Ah, masihkah ada tanah untuk kita
Sementara pagi tak menyambut
Aku hanya dipayungi air getir
Yang tertawa dalam tangis para Dewa

Sejenak aku tahu
Aku raib melenggang jadi kumbang
Terbang mengarungi cuaca pagi

Kita tak mampu membaca 
Isyarat cuaca dengan doa
Mungkin penungguan zaman jawabnya

Hanya lonceng tak bernada
Yang merubah fajar dengan senja

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ngudiang ci to??? Meju o Git? hahahhaa.
Made Gita Raditya, salah satu sahabat saya dan secara kebetulan kakaknya Bli Hangga Melon juga sahabat sekaligus senior saya di Teknik Perkapalan ITS Surabaya (sorry nyerempet dikit).

Hhmm, dahulu kala secara mengejutkan Gita menulis puisi ini karena sepengetahuan saya Gita lebih cenderung "nyaman" dalam bermusik dan musikalisasi ketimbang puisi dan drama (soalnya dulu sempat ngambek, mau main musikalisasi kok malah dikasi drama), ^_^ no offense plis).

Saya yakin sampai dengan saat ini Gita masih melanjutkan proses kreatifnya di bidang lain, secara dia jadi arsitek gitu loohh. Denger-denger jago komputer juga. Oh ya, gitarmu kan ada banyak tuh di rumah (ciri-ciri penghasilan banyak), sumbangkanlah satu untuk ANGIN. :)

Pak Warih dalam "catatan penyunting" menyebut puisi karya masbro Gita ini mempunyai irama dan musikalitas yang tercipta melalui pertautan secara keseluruhan. Tak heran bila Ngurah "Cingur" dan Kadek "Hippo" berhasil mengaransemen puisi ini menjadi musikalisasi yang apik. Silahkan berkenalan dan bercengkrama dengan bli Gita di FB dengan account Gita Raditya. 

#Bless U My Partner in Crime #Bogor 12 May 2013 10:23 P.M
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saturday, May 11, 2013

A Foreword from Ex Head Master#Jalan Angin#Teater Angin#Smansa#Denpasar


Ditengah kesibukan beliau menjadi kepala sekolah SMA Negeri 1 Denpasar beberapa tahun lalu (saya lupa periode jabatan Beliau) beliau masih sempat memikirkan kata-kata puitis seperti ini. Menorehkan beberapa patah kata di dalam buku "Jalan Angin". Pertanyaannya saat ini adalah "masihkan Pak Tumbuh ingat bahwa beliau pernah menulis kata pengantar seperti ini." ^_^. Tidak penting jika beliau tidak mengingatnya lagi yang lebih penting adalah bagaimana seharusnya kita generasi yang lebih muda mengingatkan beliau, mengingatkan yang lebih muda, adik-adik kita akan kenangan dan hasil kreasi ini.

Kalimat kedua sangatlah penuh makna "Teruslah menulis hingga kalian mampu menulis takdir kalian sendiri" .
Indah Bukan? Saya pun yakin sebagian besar dari penulis puisi di dalam buku ini sudah hampir menemukan takdirnya masing-masing. 

Kalimat terakhir pun tidak kalah tajam dan emosional "Buku ini adalah bukti bahwa kalian pernah ada."
Wow, dada langsung bergetar ketika membaca kalimat terakhir ini karena setiap orang butuh eksis bukan. Sehingga kami kala itu menunjukkan eksistensi kami dan ke"narsis"an kami dengan cara menulis, ya menulis puisi. Hal yang sangat tidak populer dikalangan remaja ABG imut-imut berpakaian putih abu-abu.

Sekilas tentang Pak Made Tumbuh.
Nama dan gelar lengkapnya adalah Drs. I Made Tumbuh. Tidak banyak yang saya ketahui tentang beliau karena ketika SMA bisa dihitung dengan jari jumlah saya berhadapan dengan beliau. Beberapa hal menarik yang sempat saya baca di beberapa media massa bahwa SMA 1 Denpasar mengalami masa terbaik dan keemasan ketika beliau menjabat sebagai Kepala Sekolah. Yup, menurut saya tepat sekali kalimat tersebut, ketika saya masih SMA saja tidak terhitung berapa banyak juara yang diperoleh oleh anak didik SMA Negeri 1 Denpasar. Bahkan sempat mengawinkan gelar PORJAR & PSR tiga kali berturut – turut. It was so cool man!!!

Saat ini Pak Made Tumbuh sudah tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah karena sudah memasuki masa purnatugas alias pensiun. Sehingga tidak akan ada lagi anak Angin yang bernyanyi lagu “Terlalu Manis Slank.” Apa hubungannya lagu “Terlalu Manis Slank???” Hanya anak Angin dan beberapa sahabat – sahabat angin yang mengerti… Peace ^_^ (no offense, joke only)

Sumber Gambar: 

Friday, May 10, 2013

Jalan Angin: Antologi Puisi 2006# Teater Angin# Smansa Dps#

7 tahun sudah semenjak buku antologi puisi "Jalan Angin" 2006 ini diterbitkan. Hari ini pertama kali sejak 5 tahun belakangan buku ini saya buka dan baca kembali. Walaupun berada di Bogor namun imajinasi dengan kuatnya membawa alam bawah sadar saya kembali ke "aula Smansa",  "Sekre Angin", ke tempat-tempat penuh nostalgia di tahun 2004 - 2006.

Sejenak saya mengenang masa-masa itu dan terasa menonton FTV dimana terdapat remaja-remaja yang punya banyak waktu luang,  badung,  dan punya keinginan kuat untuk berkreatifitas. Tak peduli apapun hasilnya,  bagaimana letihnya,  yang penting proses dan kebersamaannya.

Antologi Puisi "Jalan Angin"  adalah karya beberapa penulis SMA  yang berteduh di bawah ekstrakulikuler unik bernama "Teater Angin". Buku ini berisi hasil karya anak angin angkatan 41 dan 42 namun tentu saja buku ini dimiliki oleh semua angkatan dan diwariskan ke angkatan berikutnya.

Dari semua penulis puisi di buku ini hanya beberapa saja yang
masih aktif di dunia sastra namun beberapa diantaranya (termasuk saya) masih gemar menulis beberapa kata puitis untuk dijadikan status Facebook ataupun berkicau di twitter. Saya yakin dibalik profesi sahabat saya yang sangat beragam mulai dari Engineer,  architect, teacher, doctor, scientist, entrepreneurs, masih dan akan selalu berkreatifitas dengan caranya masing-masing.

Sudiani dan Rastiti adalah salah satu penulis yang sampai dengan saat ini masih menekuni dunia sastra. Tak tanggung - tanggung salah satu sahabat saya ini Sudiani bahkan bisa keliling dunia berkat kepiawaiannya mengolah kata dan metafora.  Congrats guys. Hebatnya lagi setelah saya ingat-ingat mereka berdua inilah yang punya ide untuk membuat antologi JALAN ANGIN ini. Sesungguhnya mereka lah master sekaligus "suhu" puisi di angkatan kami.

Mengambil kalimat puitis Bapak Made Tumbuh di kata pengantarnya "Buku ini adalah bukti bahwa kalian pernah ada" maka dengan senang hati kami akan membagikan seluruh isi dari buku "Jalan Angin" dalam dunia digital ini.

"Sharing for Caring and Inspiring" // Bogor, 10 Mei 2013.

Gita Raditya #Feby Widianto #Alfonsus #Satyaning #Putu Wulandari# "Dewi" Dewantari# Wahyu Yoga Dana# Manasaputri# Nandaliana# Yuliari# M. Pancho# Rastiti# Sudiani#

Untuk ayah ibu kami,
Keputusan terbaik yang pernah kami buat…
Denpasar, 2006.