Thursday, September 5, 2013

SPREADSHEET BASED – DECISION SUPPORT SYSTEM FOR INVENTORY MANAGEMENT AND SHIP SCHEDULING

Hi dear

Here under is my paper presented in SENTA FTK-ITS on 2012... I hope my simple and small research can give you a inspiration.

Please feel free to contact me if you interest with this research theme. Until now I'm still working on it and looking for a partner to develop a better Decision Support System. Cheerrss and happy researching.


SPREADSHEET BASED – DECISION SUPPORT SYSTEM FOR
INVENTORY MANAGEMENT AND SHIP SCHEDULING

Gede Wahyu Yoga Dana

PT Holcim Indonesia Tbk, Logistics Directorate
*Email: gede.wahyu@holcim.com

Abstract


Currently ship scheduling in Holcim Indonesia has been done manually using spreadsheet based on the planner knowledge and experience. This makes the planning time become long and exhausting. Besides that, the costs incurred is not evaluated well, thus the distribution costs become high. Along with the business growth, the number of ships, supply port, and demand port will increase more and more. It will be impossible to be handled optimally by manual calculation and experience only.

The purpose of this research is to make an Decision Support System which integrating  between inventory management and ship scheduling system. The inventory and forecast data at each warehouse is updated daily, then the planner can arrange the planning base on this inventory and forecast data. The result of using this DSS on August is the time spent on schedule planning has been cut significantly, up to 75 minutes, decrease time spent to adjust the planning about 50 minutes/adjustment. Thus freeing the planner for other creative tasks. Deduct bunker request about 82 KL HSD and savings IDR 103.5 million by allocate bunker at Java area instead of Riau area which is requested by ship Master.

Keyword: Inventory, Ship, Scheduling, Decision Support System


Here link to get full paper of this research... Happy researching :D

https://www.dropbox.com/s/fiatbbnvbdmrtbc/SPREADSHEET%20BASED%20%E2%80%93%20DECISION%20SUPPORT%20SYSTEM.pdf

Sunday, September 1, 2013

Kuaci Biji Bunga Matahari - Import dari Mongolia!!!

Sepulang kerja saya mampir sebentar di Indomaret untuk membeli sabun mandi yang kebetulan sudah habis. Ketika berkeliling di rak snack, saya melihat ada kemasan yang menarik, simple dan berbeda bila dibandingkan yang lainnya. Setelah saya dekati ternyata isinya kuaci, hahaha. Menarik juga ya,  kuaci biji bunga matahari yang dikeringkan biasanya dikemas dengan warna-warna mencolok seperti kemasan makanan ringan pada umumnya namun kuaci ini dikemas dengan kertas daur ulang warna coklat dan hanya menggunakan 1 warna saja, yaitu merah. Akhirnya saya beli kuaci tersebut karena saat ini saya sedang ada "self project" mendesain kemasan makanan sehingga kemasan kuaci ini bisa dijadikan salah satu referensi.

Beberapa hari kuaci ini sempat terbengkalai sampai suatu ketika teman sekontrakan saya bertanya,  "Ini kuaci kan ya? Enak nih,  aku buka ya?" Yaahh,  padahal mau saya foto terlebih dahulu untuk mendokumentasikannya namun tak apalah, toh juga kalau dibuka dengan rapi desain kemasannya masih bisa dilihat utuh.

Ketika kami berdua menikmati kuaci itu,  saya mulai meneliti detail kemasannya. Mulai dari tata letak,  ilustrasi yang disajikan,  potongan - potongan kertas,  dan akhirnya terdiam pada kalimat "Importir PT XXX". Whaattt,  biji bunga matahari a.k.a kuaci saja Indonesia import!!! Apakah bunga matahari tidak bisa tumbuh subur di negara ini? Apakah insinyur pertanian Indonesia tidak bisa membuat bibit unggul kuaci sehingga kuaci yang dihasilkan sama atau bahkan lebih besar daripada kuaci import ini?

Sepertinya saat ini Indonesia sedang latah import,  apapun import. Daging sapi,  beras,  garam,  kedelai,  bahkan sekarang kuaci. Kuaci,  makanan favorit Hamtaro diimport dari Mongolia. SPECHLESS

Saturday, July 27, 2013

AGAR TAK MENYESAL MELULU; Tanadi Santoso


Akankah Anda mengambil kuliah S-2 sambil bekerja? Bagaimana dengan karyawan yang tidak disiplin tetapi sangat mampu berjualan itu, dibiarkan atau dikeluarkan? Pacar tidak disetujui orang tua, tetapi Anda merasa cocok, terus atau putus? Akankah Anda pindah kerja akhir tahun ini, mau pindah ke perusahaan mana? Buka toko jualan jilbab, akan lakukah? Ditawari teman ikut join bikin hotel kecil, ikut atau tidak ya?
Keputusan yang kita ambil akan memengaruhi hidup kita di masa depan, sudahkah kita memilih dengan cara yang baik? Tentu pilihan seperti mau es krim rasa apa, mau makan siang di mana, pesta nanti pakai baju apa, tidak butuh proses yang besar. Secara intuisi sederhana, oke. Namun, segala keputusan yang membutuhkan lebih dari 10 menit untuk memutuskannya, perlu sebuah proses yang kuat, untuk menjamin hasil keputusan yang terbaik dari pilihan yang ada.
Ada empat problem dalam pengambilan keputusan. Pertama, pilihan sedikit atau hanya satu. Misalkan, saya sebaiknya mengambil kuliah S-2 atau tidak? Kedua, bias konfirmasi atau kecenderungan untuk memandang data yang menguatkan pilihan kita dan tidak bisa benar-benar objektif dalam mengamati data yang ada. Kalau mau buka bisnis hotel, Anda akan selalu melihat keramaian dan sisi positif dari hotel saja, tanpa mengindahkan risiko dan kemungkinan gagalnya. Ketiga, emosi sesaat. Emosi membuat kita memutuskan hal yang kemudian kita sesalkan. Ketika dirundung asmara, men-tatoo bahu kita dengan nama pacar, eh ternyata sebulan putus. Memperbaiki rumah sering membuat kita melebihi bujet karena emosi sesaat ketika memilih barang. Keempat, terlalu percaya diri. Kita terlalu percaya diri sehingga sepertinya pilihan kita pasti benar. Percaya diri yang berlebihan membuat kita yakin tidak akan lupa login dan password kita saat membuat akun di Facebook, eh, ternyata seminggu kemudian lupa sama sekali. Dalam mengambil keputusan besar pun kita sering terlalu yakin diri.
Lalu, apa yang harus kita lakukan agar lebih jernih mengambil keputusan? Buku ini membahas empat fase besar yang perlu diperhatikan, dilengkapi dengan berbagai metode untuk mempraktikkan dan menjabarkannya. Empat fase ini merupakan proses yang sangat jelas dan harus kita yakini proses ini akan menjadikan kita pengambil keputusan yang lebih baik.
Pertama: Perbanyak pilihan Anda. Jangan terlalu fokus pada satu pilihan saja. Pilihlah beberapa jalur untuk mencapai satu keputusan, bandingkan satu solusi dengan solusi lainnya. Hal ini akan membuat kita lebih terbuka. Mengambil S-2 atau tidak, bisa kita ganti dengan mengambil keterampilan khusus tanpa perlu ijazah hidup di luar negeri selama dua tahun sambil bekerja bekerja di institusi pendidikan supaya bisa belajar tanpa harus bayar, dan seterusnya.
Bila pilihan Anda untuk mengambil S-2 dianggap tidak ada maka apa pilihan Anda yang lain. Dengan menganggap tidak boleh memilih pilihan utama kita, kita mulai melihat pilihan dan kemungkinan lain. Ini membuat kita lebih mau berpikir di luar kotak kebiasaan kita. Carilah orang yang pernah mengambil keputusan atau menyelesaikan persoalan yang sama dengan yang Anda hadapi sekarang. Hal ini akan memaksa kita melihat persoalan dari luar dan dari dalam secara lebih objektif. Kemungkinan besar masalah Anda sudah pernah diselesaikan orang lain apa yang pernah mereka lakukan dan bagaimana sebaiknya buat kita?
Kedua: Periksa kebenaran semua asumsi Anda. Kita mengambil keputusan dengan asumsi kita. Sudahkah asumsi itu kita cek kebenarannya? Apa yang harus benar supaya pilihan kita menjadi baik? Sudahkah Anda cek kemungkinan seandainya kita total salah dengan asumsi kita? Ketika Anda superyakin warung Anda akan laris, sudahkah Anda coba memasak untuk klien, cek apakah mereka suka, dan bersedia beli nantinya? Apakah Anda tahu berapa persen kemungkinan warung ini gagal? Detail bisnis baru Anda, sudahkah Anda pelajari dari bisnis lain sejenis yang Anda kenal?
Kalau kita mau tur ke Vietnam, kita riset benar di Internat, hotel, tempat wisata, cuaca, biaya, dan seterusnya. Namun, ketika Anda mau kerja di satu perusahaan, sudahkah Anda cek benar, apakah orang-orang betah bekerja di sana? Apa yang membuat orang keluar dari pekerjaan itu? Atau, ketika kita mau buka bisnis baru, sudahkah Anda survei dan wawancara pebisnis sejenis yang ada, apakah penyebab kemungkinan gagal terbesarnya?
Sering kita lebih berhati-hati kalau mau tur daripada ketika mempertaruhkan masa depan kita, yang seharusnya lebih penting. Kita memilih calon suami dengan intuisi saja, tidak benar-benar melakukan riset yang baik. Kita masuk kerja di sebuah pekerjaan dengan feeling saja, bukankah seharusnya kita lebih tajam memilah dan memilih keputusan kita?
Pada 1975, Richard Burton akan menikah untuk ketiga kalinya, dengan Elizabeth Taylor yang akan menikah untuk keenam kalinya. Keduanya yakin ini adalah pernikahan terakhir mereka, ternyata hanya bertahan 10 bulan. Emosi dan data fakta tetap saja membuat kita mengambil kesimpulan yang sering salah.
Ketiga: Hindari emosi saat kita mengambil keputusan. Emosi membuat orang mengambil keputusan sesaat yang akan disesali sepanjang masa. Maka, jauhkan diri kita dari emosi ketika mengambil keputusan besar. Pikirkan 10/10/10 Dalam 10 menit lagi akankah kita menyesal dalam 10 bulan lagi akankah kita tetap mengambil keputusan ini dalam 10 tahun, masihkah ini merupakan pilihan terbaik saya?
Ketika kita memberikan nasihat kepada teman, kita lebih bijaksana. Cobalah berpikir apa yang akan saya sarankan kepada teman baik saya dalam keadaan begini? Karena, ketika kita memikirkan diri kita sendiri, terlalu banyak emosi yang terlibat. Memberikan jeda jarak pada diri kita dengan keputusan kita akan menghasilkan keputusan yang lebih objektif.
Keempat: Bersiaplah untuk salah. Anda akan membuka restoran, kalau Anda sukses besar, setahun lagi kira-kira keadaan Anda bagaimana? Kalau Anda gagal total, apa yang akan terjadi? Ketika kita mulai memikirkan kemungkinan gagal dan kemungkinan sukses kita, maka kita menjadi lebih realistis dan lebih benar dalam memprediksi masa depan kita. Biasanya jawabnya ada di antara kedua jawaban itu.
Ciptakan tripwire, pemantik, yang memberikan sinyal kalau mencapai titik sesuatu. Ketika istri Anda ingin membuat kerajinan tangan untuk dijual, katakan: Dalam setahun, kalau ternyata penjualanmu sebulan tidak bisa mencapai sejuta rupiah, kamu kembali kerja saja ikut perusahaan dan tidak lagi mengerjakan kerajinan tangan ya? Ini merupakan sebuah titik target yang jadi indikator terus atau tidaknya hal itu.
Zappos menawarkan US$ 1.000 untuk semua karyawan yang selesai pelatihan kalau mereka mau keluar dari perusahaan. Bila orang ini mau, berarti memang orang ini bukan orang yang cocok kerja di Zappos. US$ 1.000 inilah tripwire yang diperlukan untuk memberikan tanda. Dalam pencarian ide juga sama: Kalau dalam seminggu ini tidak ada nama lain yang lebih cocok, produk baru kita ini akan kita beri nama Yellow Banana. Sebuah keputusan.
Keempat fase tersebut – disingkat menjadi WRAP Widen your option Reality check your assumption Attain distance before deciding dan Prepare to be wrong – memberikan kejernihan yang lebih baik sebelum mengambil sebuah keputusan penting yang besar. Dan bilamana kita yakin telah melakukan dengan sebaik-baiknya keempat fase ini, kita boleh tidur dengan nyeyak, bagaimanapun hasilnya, Anda telah melakukan yang terbaik yang bisa Anda lakukan.
Chip Dan Heath, yang telah sukses besar dengan dua buku sebelumnya, mencoba memberikan formula dan contoh tentang cara paling benar menyusun keputusan kita. Buku sebelumnya, Made to Stick, merupakah salah satu buku kesukaan saya, yang mengajarkan bagaimana kita membuat hal yang kita jelaskan bisa melekat di otak orang. Buku kedua, Switch, tentang bagaimana menggerakkan perubahan dalam diri kita, organisasi kita dan bisnis kita.
Buku Decisive ini enak dibaca, penuh dengan contoh nyata yang menarik dan praktis. Pada setiap akhir bab, ada ringkasan satu halaman yang berguna untuk mengingatkan hal penting bab itu kepada setiap pembaca. Sebuah buku yang seharusnya diajarkan di kampus sebagai pelajaran tentang bagaimana cara terbaik mengambil keputusan.
Tanadi Santoso, wirausaha, pembicara publik dan corporate trainer.
www.tanadisantoso.com www.facebook.com/tanadisantoso @tanadisantoso

Saturday, July 13, 2013

ANALISIS PERBANDINGAN POLA PASOKAN AIR BERSIH DI WILAYAH KEPULAUAN

Daripada tidak bersisa sama sekali maka lebih baik saya upload dan bagikan ke rekan-rekan yang membutuhkan. Selamat membaca dan semoga menginsipirasi ^_^

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ABSTRAK

Di Kepulauan Seribu kebutuhan air bersih tidak dapat sepenuhnya dipenuhi sendiri. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah tersebut, Pemerintah Daerah DKI Jakarta mengoperasikan alat desalinasi air laut. Namun penggunaan peralatan desalinasi tersebut dianggap tidak optimal karena harus dibangun di tiap-tiap pulau sehingga diusulkan penggunaan kapal desalinasi air laut.

Tugas Akhir ini bertujuan untuk menganalisis model pasokan air bersih yang paling sesuai di wilayah Kepulauan Seribu, yaitu dengan menggunakan alat desalinasi darat (shore plant), menggunakan kapal desalinasi air laut (floating plant), atau kombinasi keduanya. Untuk perencanaan rute operasi kapal desalinasi air laut digunakan konsep travelling salesman problem (TSP). Selanjutnya, beberapa model operasi dikembangkan berdasarkan kombinasi jumlah shore plant dan floating plant serta pola operasinya. Pada Tahap akhir optimisasi, digunakan model optimisasi binary integer programming (BIP) untuk pemilihan model pasokan dengan biaya paling minimum.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi shore plant dan floating plant menghasilkan biaya minimum untuk memproduksi air minum sebesar Rp32.164. Biaya ini 26% lebih rendah bila dibandingkan dengan penggunaan floating plant seluruhnya dan 3% lebih rendah bila dibandingkan dengan menggunakan shore plant seluruhnya. Sedangkan unit cost untuk memproduksi air bersih adalah Rp28.709/m3. Biaya ini 11% lebih murah dibandingkan dengan biaya produksi air minum.


Kata kunci: Desalinasi, Shore Plant, Floating Plant, TSP, BIP

Download full papernya di 
https://www.dropbox.com/s/oug8uy9wrgtcn50/4107100049-Final%20Project.pdf
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kepulauan Seribu cannot fulfill the demand for fresh water entirely by itself. Hence, to meet the needs of fresh water in that islands, the Government of DKI Jakarta has provided and operated seawater desalination plants. However, the use of those plants is considered not optimum because it must be installed in each island. Thus, it is proposed to use floating desalination plant to supplement it.

The purpose of this Final Project is to analyze the most suitable water supply model for Kepulauan Seribu, by using shore desalination plant, floating desalination plant, or combination of both. The concept of traveling salesman problem (TSP) is used for route planning operation of floating desalination plant. Furthermore, some operating models are developed based on the combination of shore plant and floating plant and the patterns of operation. At the final stage of optimization, the binary integer programming (BIP) optimization model is used for the selection of the supply model with minimum cost.

The result show that the minimum cost for producing potable water is Rp32.164/m3. This cost is obtained by combining shore plant and floating plant operation. The unit cost is 26% lower than the use of floating plant entirely and 3% lower than the use of shore plant entirely. However, to produce fresh water the unit cost is Rp28.709/m3, 11% cheaper than that of potable water.

Keywords: Desalination, Shore Plant, Floating Plant, TSP, BIP

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saturday, May 18, 2013

JalanAngin #LukaDuka #AlfonsusDJ #3


Luka Duka

Karena kau ingat aku
Jangan kau cabut rumput ini
Jika kusirami kembali






















------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alfonsus namanya. Small man with great brain!. Mengapa demikian? Karena anak satu ini adalah anak percepatan di Smansa. Anak percepatan yang juga memilih menjadi "anak angin". Disaat kita bolos, dispen, ga buat PR dan dia juga melakukan hal yang sama, namun tetap saja dia lulus lebih cepat daripada teman-teman seangkatannya.

Kalau tidak salah ketika latihan untuk MAS (Malam Apresiasi Sastra) bapaknya Alfon datang dan langsung mendamprat ketua teater Angin saat itu, a.k.a Arya Dongkang. Wah, lumayan seru juga ketika itu. "Kamu tahu anak saya itu kelas percepatan! bla bla bla blaaaa... hahahaha. Sekarang baru saya menyadari bahwa ketika SMA dulu memang jam latihan sudah kelewatan (up to 10:00 P.M) dan sebenarnya tidak baik juga untuk kesehatan.

Salut lah untuk teman kita satu ini. Kerjanya pun yahud banget sekarang, denger-denger sih kerja di salah satu perusahaan oil n gas asing gtu. Saat ini pun sedang ikutan training di Luar Negeri, Rusia kayaknya. MManntappp, anak angin lo ini.. ^_^
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Friday, May 17, 2013

Marketing: Penggunaan Paranormal & Dunia Lain…


Inovatif! Pemikiran inilah yang pertama kali muncul di benak saya ketika saya ditawarkan produk ini oleh seorang pedagang upakara di Pura. Produk dupa yang isinya hanya 10 batang dijual dengan harga Rp 12.000. What an expensive price for such product! 10 batang dupa harum biasanya dijual Rp 1000 aja loo!! Namun buktinya dupa ini laku bahkan dupa ini saya peroleh di Pura Aditya Jaya Rawamangun yang berlokasi di Jakarta. Wow,  Bali jadi exportir dupa men... ^_^


Mengapa produk ini laku dipasaran? Apa karena kemasan yang menarik, produknya berkualitas, sedang ngetren,  dupanya harum, atau memang karena merk nya sudah oke punya. Hahahaha, tidak satupun dari itu,  melainkan adalah karena produk ini memiliki added value yang disebut dengan SUGESTI. Mari kita telusuri masing-masing added value tersebut.



Gambar "rerajahan" untuk memberikan kesan khusus
Coba perhatikan lambang yang digunakan di kemasan bagian depan, menurut saya kemungkinan besar itu adalah gambar "rerajahan". Rerajahan adalah suatu bentuk yang dibuat di atas benda tertentu dengan tujuan memberikan kekuatan supranatural kepada benda tersebut (dari berbagai sumber, CMIIW). Nah dengan adanya rerajahan ini bisa dilihat bahwa dari awal produsen sudah mencoba untuk memberikan sugesti visual bahwa dupa ini memiliki khasiat unik dan magis. Ditambah lagi dengan pilihan warna hitam dan motif poleng (baca: hitam putih) di bagian bawah kemasan yang menambah kesan mistis.. Hhiiiiiii ko jadi merinding sendiri nihh.


Informasi khasiat produk yang tidak biasa
Di bagian belakang kemasan terdapat informasi yang benar-benar to the point lahh. Baca & liat aje sendiri di gambar paling atas yaa,  ga perlu saya jelasin deh nanti merinding sendiri ketika menuliskan khasiatnya -_-…Lalu ada kata pamungkas yang ditulis dengan huruf besar dan font dengan ukuran paling besar diantara kata lainnya,  yaitu PASUPATI. Kalau anda seorang balinese,  menyukai budaya jawa kuno,  ataupun suka membaca cerita pewayangan seperti Mahabrata maka anda pasti tidak asing dengan kata Pasupati.

Budaya, kepercayaan, dan produk
Dalam budaya Bali Upacara Pasupati bermakna pemujaan memohon berkah kepada Hyang Widhi (Sang Hyang Pasupati) untuk dapat menghidupkan dan memberikan kekuatan magis terhadap benda-benda tertentu yang akan dikeramatkan. Dalam kepercayaan umat Hindu (ajaran Sanatana Dharma) di Bali, upacara Pasupati merupakan bagian dan upacara Dewa Yadnya. Proses pasupati bisa dengan hanya mengisi energi atau kekuatan tuhan atau menstanakan sumber kekuatan tertentu di dalam benda tersebut. Tergantung kemampuan orang yang melakukan upacara pasupati tersebut (cakepane.blogspot.com).




Upaya yang tidak biasa dengan produk yang biasa
Last but not least,  apapun interpretasinya, produsen sudah berusaha melakukan upaya yang tak biasa dengan produk yang biasa. Memberikan nilai tambah yang tak biasa dengan segmen pasar yang khusus dan tak biasa. Harganya pun menjadi melambung tinggi karena adanya inovasi yang tak biasa ini. Akhir kata,  salut buat salah satu produsen yang kreatif ini dan sekali lagi terbukti bahwa jika ingin menjadi orang Bali yang sukses dan menetap di Bali maka buatlah usaha yang berbasis budaya lokal. Karena saya yakin se-modern apapun Bali, budayanya tidak akan pernah punah.








*Tulisan ini dibuat di dalam busway ketika perjalanan pulang Tj Priok - Bogor #17may13



Tuesday, May 14, 2013

Kesucian dimulai dari hal-hal kecil



Mengapa ada tempat sampah dan tempat dupa di Jaba (bagian utama) Pura? Karena kami selalu membersihkan upakara yang kami gunakan setelah sembahyang. Kesucian dimulai dari hal-hal kecil kawan. @Pura Aditya Jaya Rawamangun


Hal menarik saya temukan ketika saya kuliah di Surabaya,  kampus perjuangan ITS. Bukan di lingkungan kampusnya, melainkan di tempat ibadah kami, Pura.

di Surabaya ataupun pura lainnya di luar Bali tidak hanya digunakan untuk beribadah melainkan sebagai tempat berkumpulnya anak - muda dari berbagai jurusan, kampus, golongan bersatu bersama dalam satu kata suci HINDU. Namun kali ini saya tidak akan membahas aktifitas mahasiswa Hindu di Surabaya.

Hal menarik ini juga saya temukan di Jakarta dan diseluruh Pura di luar Bali. Hal tersebut adalah adanya kebiasaan tak tertulis yang secara otomatis mendorong sensor motorik otak untuk memungut upakara (canang, dupa, bunga) yang sudah selesai digunakan untuk selanjutnya dibersihkan.
  
Simmmpppleeee, very very very leeesss effort.


Dengan menggunakan tangan kita sendiri untuk membersihkan maka kita sudah membantu para Pemangku Pura sehingga beliau-beliau tersebut bisa fokus kepada tugas utamanya dan tidak kelelahan karena harus bersih sana bersih sini.

KEBIASAAN SANGAT POSITIF INI saya selalu pegang teguh dan saya lakukan juga ketika saya pulang kampung (ckckck, jadi ingin pulang). Tidak perlu memberitahu orang lain, nanti dibilang "SOK GEN CI" (Indo: Blagu aja loe). Cukup dengan menjadi role model (contoh) saja, less talk do more broww.

Mari bagi semua yang sudah melakukan hal seperti ini agar tetap dilakukan dan disebarluaskan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Monday, May 13, 2013

JalanAngin# KeringNiatku #FebbyWidianto #2

Aku rindu kesederhanaan
Yang selalu kutenggak
Bersama angin
     dan dunia kecil

Sketsa oleh: Suardana
*sudah mendapatkan izin untuk dipublikasikan
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dulu dikenal suka bermusik, punya suara yang pantaslah untuk bernyanyi (kalau dibandingkan dengan saya bagai kecoa dan rajawali kali ya suaranya). Tentu saja saya kecoanya ^_^

Dulu juga dikenal suka mengutak - atik peralatan elektronika sehingga dinobatkan sebagai Dimmer Player Teater Angin :). 

Saya mengenal Febby sebagai anak yang pintar dan cerdas. Buktinya simple aja, lolos SPMB Teknik Elektro ITS, waahh ajee gilee kaann. Saya SPMB Teknik Elektro UGM saja tidak lolos (emang dasar cuma bisa koar-koar seperti tulisan di blog ini doank). Sayang ente waktu kuliah terlalu sibuk "kuliah" jadi ga sempet nyanyi lagu "Terlalu Manis Slank" lagi (ckckckck, kenapa selalu lagu ini ya yang saya sebutkan). 

Kalau ke Jakarta kabarin ya kawan, kali aja ada waktu buat nge "bintang". Atau sudah tobat??? -peacenoffence)

Kata pak Warih, ini adalah salah satu puisi pendek yang utuh, tapi memang belum sekuat sajak haiku (Jepang) dan bukan mustahil suatu hari nanti mereka akan berusaha untuk menyamainya. Gimana bro? Lanjut? :).

Puisi ini juga sempat dijadikan musikalisasi oleh rekan - rekan Barak dan ditampilkan hanya sekali ketika buku puisi ini diluncurkan di Toko Buku Toga Mas Jalan Hayam Wuruk Denpasar. Canggih yaaa, puisi pendek, hanya beberapa kata namun menjelma menjadi musikalisasi yang menawan.

Cuk!! Tulisanku lebih cerewet dan tidak bermakna bila dibandingkan dengan puisinya yang sederhana namun penuh makna. Cukup sekian dan terimakasih.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sunday, May 12, 2013

JalanAngin #LoncengTakBernada #GitaRaditya #1

Fajar menanti mentari
Dalam sepenggal cerita
Yang kutulis dalam ingatan
Beserta lonceng hati

Ah, masihkah ada tanah untuk kita
Sementara pagi tak menyambut
Aku hanya dipayungi air getir
Yang tertawa dalam tangis para Dewa

Sejenak aku tahu
Aku raib melenggang jadi kumbang
Terbang mengarungi cuaca pagi

Kita tak mampu membaca 
Isyarat cuaca dengan doa
Mungkin penungguan zaman jawabnya

Hanya lonceng tak bernada
Yang merubah fajar dengan senja

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ngudiang ci to??? Meju o Git? hahahhaa.
Made Gita Raditya, salah satu sahabat saya dan secara kebetulan kakaknya Bli Hangga Melon juga sahabat sekaligus senior saya di Teknik Perkapalan ITS Surabaya (sorry nyerempet dikit).

Hhmm, dahulu kala secara mengejutkan Gita menulis puisi ini karena sepengetahuan saya Gita lebih cenderung "nyaman" dalam bermusik dan musikalisasi ketimbang puisi dan drama (soalnya dulu sempat ngambek, mau main musikalisasi kok malah dikasi drama), ^_^ no offense plis).

Saya yakin sampai dengan saat ini Gita masih melanjutkan proses kreatifnya di bidang lain, secara dia jadi arsitek gitu loohh. Denger-denger jago komputer juga. Oh ya, gitarmu kan ada banyak tuh di rumah (ciri-ciri penghasilan banyak), sumbangkanlah satu untuk ANGIN. :)

Pak Warih dalam "catatan penyunting" menyebut puisi karya masbro Gita ini mempunyai irama dan musikalitas yang tercipta melalui pertautan secara keseluruhan. Tak heran bila Ngurah "Cingur" dan Kadek "Hippo" berhasil mengaransemen puisi ini menjadi musikalisasi yang apik. Silahkan berkenalan dan bercengkrama dengan bli Gita di FB dengan account Gita Raditya. 

#Bless U My Partner in Crime #Bogor 12 May 2013 10:23 P.M
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saturday, May 11, 2013

A Foreword from Ex Head Master#Jalan Angin#Teater Angin#Smansa#Denpasar


Ditengah kesibukan beliau menjadi kepala sekolah SMA Negeri 1 Denpasar beberapa tahun lalu (saya lupa periode jabatan Beliau) beliau masih sempat memikirkan kata-kata puitis seperti ini. Menorehkan beberapa patah kata di dalam buku "Jalan Angin". Pertanyaannya saat ini adalah "masihkan Pak Tumbuh ingat bahwa beliau pernah menulis kata pengantar seperti ini." ^_^. Tidak penting jika beliau tidak mengingatnya lagi yang lebih penting adalah bagaimana seharusnya kita generasi yang lebih muda mengingatkan beliau, mengingatkan yang lebih muda, adik-adik kita akan kenangan dan hasil kreasi ini.

Kalimat kedua sangatlah penuh makna "Teruslah menulis hingga kalian mampu menulis takdir kalian sendiri" .
Indah Bukan? Saya pun yakin sebagian besar dari penulis puisi di dalam buku ini sudah hampir menemukan takdirnya masing-masing. 

Kalimat terakhir pun tidak kalah tajam dan emosional "Buku ini adalah bukti bahwa kalian pernah ada."
Wow, dada langsung bergetar ketika membaca kalimat terakhir ini karena setiap orang butuh eksis bukan. Sehingga kami kala itu menunjukkan eksistensi kami dan ke"narsis"an kami dengan cara menulis, ya menulis puisi. Hal yang sangat tidak populer dikalangan remaja ABG imut-imut berpakaian putih abu-abu.

Sekilas tentang Pak Made Tumbuh.
Nama dan gelar lengkapnya adalah Drs. I Made Tumbuh. Tidak banyak yang saya ketahui tentang beliau karena ketika SMA bisa dihitung dengan jari jumlah saya berhadapan dengan beliau. Beberapa hal menarik yang sempat saya baca di beberapa media massa bahwa SMA 1 Denpasar mengalami masa terbaik dan keemasan ketika beliau menjabat sebagai Kepala Sekolah. Yup, menurut saya tepat sekali kalimat tersebut, ketika saya masih SMA saja tidak terhitung berapa banyak juara yang diperoleh oleh anak didik SMA Negeri 1 Denpasar. Bahkan sempat mengawinkan gelar PORJAR & PSR tiga kali berturut – turut. It was so cool man!!!

Saat ini Pak Made Tumbuh sudah tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah karena sudah memasuki masa purnatugas alias pensiun. Sehingga tidak akan ada lagi anak Angin yang bernyanyi lagu “Terlalu Manis Slank.” Apa hubungannya lagu “Terlalu Manis Slank???” Hanya anak Angin dan beberapa sahabat – sahabat angin yang mengerti… Peace ^_^ (no offense, joke only)

Sumber Gambar: 

Friday, May 10, 2013

Kelas Inspirasi: Mendidik adalah tugas setiap orang terdidik.

Surat Panggilan Anies Baswedan 

kepada Para Profesional


Yth.
Para Profesional
di Indonesia


Saya menulis surat ini dengan keyakinan kita semua punya mimpi yang besar untuk masa depan Indonesia dan optimisme untuk bisa mewujudkannya.

Hari ini sebagian dari kita telah mendapatkan kesempatan untuk berprofesi yang baik dan hidup lebih sejahtera. Hadirnya kaum profesional adalah salah satu bukti nyata bahwa pendidikan adalah pembuka pintu kesempatan; pendidikan adalah eskalator sosial ekonomi.

Bila kita ambil jeda sebentar saja dari kesibukan untuk mengingat berapa banyak teman sekelas di SD dulu yang berhasil melewati pendidikan tinggi, barangkali jumlahnya bervariasi.

Setiap keberhasilan kita hari ini, di dalamnya ada jejak iuran para pendiri republik, jejak yang sering terlupakan.

Republik ini didirikan lewat iuran kolosal. Saat itu hampir semua pilih turun tangan. Ada yang iuran pikiran, iuran harta, iuran tenaga, iuran darah, bahkan tak terhitung yang iuran nyawa.

Semua ikut iuran tanpa pernah bertanya apa yang nantinya akan diberikan balik oleh republik ini; tak pernah ada persyaratan bahwa anak-cucunya pasti hidup makmur dan sejahtera. Tak ada.

Tapi bisa kita pastikan, setiap peran itu akan meninggalkan tanda pahala yang akan membekas. Iuran mereka itulah yang membuat kita semua kita menikmati kemajuan seperti sekarang ini.

Tradisi berjuang itu tidak pernah hilang. Sampai sekarang keluarga kita tetap membesarkan pejuang: orang-orang yang selalu ingat bahwa kehadirannya bukan sekadar untuk menikmati semua peluang di republik tercinta ini tapi juga untuk menanamkan makna bagi saudara sebangsa.

Kita semua ingin Indonesia yang lebih baik. Indonesia hanya bisa lebih baik jika kualitas manusianya berubah jadi lebih baik. Menjadi manusia yang terdidik dan tercerahkan.

Mengubah manusia selalu lewat proses pendidikan. Walau pendidikan memang tidak selalu sama dengan sekolah, kini sekolah apalagi di tingkat dasar memainkan peran penting.

Secara konstitusional mendidik memang adalah tugas negara tapi secara moral mendidik adalah tugas setiap orang terdidik.

Karena itu kami mengundang Anda yang sudah merasakan faedah pendidikan untuk ikut turun tangan, ikut terlibat langsung dalam membangun manusia Indonesia, ikut bersama-sama mengubah kondisi Indonesia kita.

Tawaran kami sederhana: think big, start small, and act now!

Sumber: http://kelasinspirasi.org/?page=galeri


Kami undang Anda yang sudah berkarier di dunia profesional untuk ambil cuti dan menjadi guru Sekolah Dasar selama satu hari pada hari Rabu, tanggal 20 Februari 2013.

Di SD-SD yang telah ditentukan ini mungkin Anda akan menyaksikan bahwa hitungan jarak kilometernya memang amat dekat dengan tempat Anda bekerja, tapi hitungan jarak kesejahteraan, jarak pengetahuan, jarak wawasan terlihat amat jauh.

Pada hari itu Anda tidak mengajar matematika, bahasa Indonesia atau Ilmu Pengetahuan Alam. Di SD itu Anda menceritakan tentang profesi Anda. Anda hadir untuk menjadi sumber inspirasi. Kita menyebutnya sebagai Kelas Inspirasi.

Mimpi itulah yang senyatanya sering hilang dari ruang kelas di sekolah-sekolah kita, apalagi saat kelas bukan lagi sekadar berarti ruang belajar di sekolah, kelas juga berarti pembagi strata ekonomi.

Berada di "atas" sering memudahkan untuk bermimpi, dan berada di "bawah" itu sering membuat bermimpi itu jadi sebuah mimpi tersendiri.

Anda hadir di sana untuk membangkitkan mimpi anak-anak di SD itu. Baju mereka bisa amat sederhana, rumah mereka bisa panas dan kumuh tapi ajaklah mereka untuk bermimpi, untuk punya cita-cita besar. Anda hadir di kelas itu menanamkan bibit mimpi mulia bagi saudara sebangsa. Sejauh apapun jarak kesejahteraannya, wawasannya, atau pengetahuannya mereka adalah amat dekat; mereka saudara kita, saudara sebangsa.

Mimpi adalah cermin pengetahuan, cermin wawasan. Anda datanglah untuk membukakan pengetahuan dan wawasan llau biarkan mimpi mereka terbang amat tinggi, sambil ingatkan mereka bahwa lewat kerja keras nan cerdas dan didampingi doa mereka bisa meraih dan melampaui mimpi itu!

Di kelas itu Anda akan menyaksikan mata berbinar, senyum lebar dan wajah ceria anak-anak itu. Mereka adalah wajah masa depan bangsa ini. Di ruang kelas itu Anda mulai mencicipi suasana Indonesia di masa depan. Potret masa depan Indonesia ada di ruang-ruang kelas.

Di kelas itu, anak-anak akan melihat Anda dengan penuh semangat. Guru seharinya adalah orang baru. Izinkan mereka mengingat Anda, mungkin mereka pulang ke rumah, menyongsong orang tuanya sambil bertutur betapa inginnya dia bisa seperti guru-guru di Kelas Inspirasi, seperti Anda.

Secara fisik kehadiran Anda cuma sehari, tapi bekasnya bisa langgeng. Ya, cerita Anda, pengetahuan, inspirasi, semangat dan pencerahan dari Anda bisa hadir secara amat permanen dalam hati dan mimpi mereka.

Anda memang diharuskan mengambil cuti pada hari itu tapi kami tidak mengajak Anda untuk berkorban, kami menawarkan kepada Anda kehormatan untuk mewakili kita semua hadir di kelas-kelas membangkitkan mimpi.

Menyumbang uang itu baik, memberikan buku itu bermanfaat, membangun fasilitas pendidikan itu mulia, tapi sesungguhnya iuran terbesar dan terpenting dalam pendidikan adalah kehadiran. Ya, hadirnya inspirator adalah Iuran terbesar dalam pendidikan. Kini lewat Kelas Inspirasi Anda bisa beri iuran terbesar itu yaitu hadir sebagai inspirator.

Kami pun yakin sehari di ruang kelas itu akan memberikan wawasan lain, membuka perspektif baru tentang bangsa kita tercinta. Anda akan bertemu guru, kepala sekolah yang berdedikasi menyiapkan masa depan. Mereka pun akan belajar tentang Anda. Melalui Kelas Inspirasi itu semua akan belajar.

Seselesainya jadi pengajar di Kelas Inspirasi Anda akan punya perasaan yang berbeda, Anda telah senyatanya ikut turun tangan mengubah wajah masa depan Indonesia.

Lewat kelas Inspirasi ini Anda turun tangan, bergandeng tangan dengan para profesional di berbagai kota di Indonesia, semua sama-sama ikut melunasi janji kemerdekaan kita: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kami tunggu kehadiran Anda berserta pengalaman Anda di Kelas Inspirasi.

Salam hangat,

Anies Baswedan

Jalan Angin: Antologi Puisi 2006# Teater Angin# Smansa Dps#

7 tahun sudah semenjak buku antologi puisi "Jalan Angin" 2006 ini diterbitkan. Hari ini pertama kali sejak 5 tahun belakangan buku ini saya buka dan baca kembali. Walaupun berada di Bogor namun imajinasi dengan kuatnya membawa alam bawah sadar saya kembali ke "aula Smansa",  "Sekre Angin", ke tempat-tempat penuh nostalgia di tahun 2004 - 2006.

Sejenak saya mengenang masa-masa itu dan terasa menonton FTV dimana terdapat remaja-remaja yang punya banyak waktu luang,  badung,  dan punya keinginan kuat untuk berkreatifitas. Tak peduli apapun hasilnya,  bagaimana letihnya,  yang penting proses dan kebersamaannya.

Antologi Puisi "Jalan Angin"  adalah karya beberapa penulis SMA  yang berteduh di bawah ekstrakulikuler unik bernama "Teater Angin". Buku ini berisi hasil karya anak angin angkatan 41 dan 42 namun tentu saja buku ini dimiliki oleh semua angkatan dan diwariskan ke angkatan berikutnya.

Dari semua penulis puisi di buku ini hanya beberapa saja yang
masih aktif di dunia sastra namun beberapa diantaranya (termasuk saya) masih gemar menulis beberapa kata puitis untuk dijadikan status Facebook ataupun berkicau di twitter. Saya yakin dibalik profesi sahabat saya yang sangat beragam mulai dari Engineer,  architect, teacher, doctor, scientist, entrepreneurs, masih dan akan selalu berkreatifitas dengan caranya masing-masing.

Sudiani dan Rastiti adalah salah satu penulis yang sampai dengan saat ini masih menekuni dunia sastra. Tak tanggung - tanggung salah satu sahabat saya ini Sudiani bahkan bisa keliling dunia berkat kepiawaiannya mengolah kata dan metafora.  Congrats guys. Hebatnya lagi setelah saya ingat-ingat mereka berdua inilah yang punya ide untuk membuat antologi JALAN ANGIN ini. Sesungguhnya mereka lah master sekaligus "suhu" puisi di angkatan kami.

Mengambil kalimat puitis Bapak Made Tumbuh di kata pengantarnya "Buku ini adalah bukti bahwa kalian pernah ada" maka dengan senang hati kami akan membagikan seluruh isi dari buku "Jalan Angin" dalam dunia digital ini.

"Sharing for Caring and Inspiring" // Bogor, 10 Mei 2013.

Gita Raditya #Feby Widianto #Alfonsus #Satyaning #Putu Wulandari# "Dewi" Dewantari# Wahyu Yoga Dana# Manasaputri# Nandaliana# Yuliari# M. Pancho# Rastiti# Sudiani#

Untuk ayah ibu kami,
Keputusan terbaik yang pernah kami buat…
Denpasar, 2006.

Tuesday, May 7, 2013

Kenalkan Seni Sejak Dini (Right Brain World)


MESKI pemerintah dewasa ini menggembar-gemborkan potensi ekonomi kreatif, banyak orangtua tampaknya masih percaya pada karier professional sebagai jalan hidup yang bakal ditempuh anaknya. Indikatornya, orangtua masih sibuk mendorong anak mengejar ranking dan nilai bagus untuk mata-mata pelajaran terkait otak kiri.
Anak yang pintar nyaris identik dengan anak yang meraih nilai bagus pada mata pelajaran matematika dan sains. Sementara itu, mata pelajaran seputar seni dan humaniora acap dipandang sebelah mata. Orangtua lebih memprioritaskan anaknya mengikuti kursus tambahan di bidang matematika ketimbang melukis atau tarik suara. Padahal, terdapat banyak peluang dan hal positif yang dapat diperoleh dengan menguasai seni.

Dewasa ini, semakin banyak pengusaha yang menginsyafi, merekrut professional yang cerdas secara intelegensia tidak menjamin unjuk kerja yang baik. Tak jarang, mereka justru mandek saat menghadapi persoalan-persoalan bisnis yang menuntut kreativitas. Sebaliknya, orang-orang yang kreatif dan pintar berkomunikasi, lebih tangguh menghadapi masalah dan selalu punya usul untuk menyiasati kebuntuan.

Laman Washington Post belum lama ini memuat tulisan tentang 10 keterampilan yang dapat dipelajari anak dari seni. Mengacu kepada buku The Artistic Edge: 7 Skills Children Need to Succeed in an Increasingly Right Brain Worldyang ditulis Lisa Philips, kesepuluh keterampilan itu adalah kreativitas, percaya diri, kemampuan menyelesaikan masalah, focus, komunikasi, non verbal, memperoleh umpan balik yang membangun, kolaborasi, dedikasi, dan kepercayaan. Hal-hal ini akan sangat bermanfaat bagi si kecil ketika kelak merintis karier di dunia kerja.


Itu sebabnya para orangtua di AS dewasa ini mulai mendiskusikan kemungkinan mengubah penekanan pendidikan nasional dari STEM (science, technology, engineering, mathematics) menjadi STEAM (tambahan “a” adalah arts).
Bagaimana mengenalkan seni kepada si kecil? Sebenarnya hal itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Memberi kesempatan seluas-luasnya untuk menggambar dapat menjadi salah satu contoh. Pemilik akun @AsterAritonang mengatakan, ia menyediakan berbagai sarana penyaluran kreativitas seni visual di rumah berupa krayon, spidol, cat air/minyak, dan kuas.

Alam dapat menjadi ekspresi seni yang paling alamiah. Mendekatkan anak dengan alam dapat mendorong kreativitasnya. Menurut pemilik akun @Arvilla312, mengajak anak ke pantai, sawah, gunung, atau sungai yang masih alami dapat memperkaya imajinasi seni anak. Atau, seperti diutarakan pemilik akun @awhe80, pengenalan seni dapat dimulai dengan melihat fenomena alam visual, mendengarkan kicauan burung juga dapat menjadi cara membawa anak menghayati keindahan seni. Bagaimana dengan anda?// Kompas 5 Mei 2013

Monday, April 15, 2013

11 Presentation Lessons You Can Still Learn From Steve Jobs


11 Presentation Lessons You Can Still Learn From Steve Jobs



Steve Jobs is still the word’s greatest corporate storyteller. I’ve seen plenty of talented speakers in the past year and I’ve written about many of them in this column but I have yet to find someone as good as Steve Jobs. This is why I have spent so many years reviewing, analyzing and sharing Jobs’ presentation techniques because leaders and entrepreneurs today need to carry on his legacy if we hope to inspire the world with our ideas. His keynote presentations continue to attract thousands of views on YouTube and he has profoundly impacted the way leaders communicate.
Earlier this year a Wall Street Journal article titled Bio As Bible featured managers who are imitating Steve Jobs based on what they’ve learned in Walter Isaacson’s biography and also from one of my books, The Innovation Secrets of Steve Jobs. While I’m very proud that the WSJ highlighted my content, dressing like Jobs is not going to inspire your audience. However, there are many other presentation techniques that you can and should copy from Steve Jobs.
Steve Jobs was an astonishing presenter because he informed, inspired, and entertained. In this article I outline 11 techniques from one presentation, the iPhone launch in 2007. If your presentation is tomorrow and you only have time to incorporate a few ideas, then spend 7 minutes to watch this video where I highlight just three techniques from the same presentation. If you want the whole enchilada, read on.
Express your passion. Steve Jobs was passionate about design, he absolutely loved his new product, and he wore his enthusiasm on his black-mock sleeve. “It looks pretty doggone gorgeous,” he said with a big smile after showing the iPhone for the first time. Jobs often used words such as “cool,” “amazing,” or “gorgeous” because he believed it. Your audience is giving you permission to show enthusiasm. If you’re not excited about your idea, nobody else will be.
Create a Twitter-friendly headline.Jobs used a technique I’ve labeled the “Twitter-friendly headline,” a one-sentence summary of a product that perfectly captured the main message he wished to deliver. Shortly after showing the new phone, Jobs proudly proclaimed, “Today Apple is going to reinvent the phone.” The headline, “Apple reinvents the phone” was the only sentence on the slide. He repeated the headline several times during the presentation. A Google search for the phrase turns up about 25,000 links, most of which are directly from articles and blog posts covering the launch presentation.
Stick to the rule of three. Jobs instinctively understood that the number “3” is one of the most powerful numbers in communications. A list of 3 things is more intriguing than 2 and far easier to remember than 22. Jobs divided his iPhone presentation into three sections. He spoke about the iPod functions of the new iPhone, the phone itself, and connecting to the Internet. Jobs even had some fun with three. He stepped on stage and said, “Today we are introducing three revolutionary products. The first, a widescreen iPod with touch controls. The second, is a revolutionary mobile phone. And the third is a breakthrough Internet communications device.” As the audience applauded, Jobs repeated the three ‘products’ several times. Finally he said, “Are you getting it? These are not three separate devices, they are one device and we are calling it iPhone!”
Introduce a villain. All great stories have a hero and a villain. A Steve Jobs presentation was no exception. In 2007, why did the world need another mobile phone, especially from Apple? Jobs set up the narrative by introducing a villain—a problem in need of a solution: “Regular cell phones are not so smart and they are not so easy to use. Smartphones are a little smarter, but are harder to use. They are really complicated…we want to make a leapfrog product, way smarter than any mobile device has ever been and super easy to use. This is what iPhone is.”
wenty-one if you include dates). Those words are also distributed across about twelve slides. For more tips on using ‘picture superiority’ in your slide design, please read my earlier article on Jeff Bezos and the end of PowerPoint as we know it.
Tell stories. Before Jobs revealed the new phone, he spent a moment to review the history of Apple, telling a story that built up to the big event. “In 1984, Apple introduced the first Macintosh. It didn’t just change Apple. It changed the whole computer industry. In 2001, we introduced the first iPod. It didn’t just change the way we all listen to music. It changed the entire music industry.” Stories can be brand stories, customer stories, or personal ones. In one very funny moment, Jobs’ clicker failed to advance the slides. After a few seconds of trying to fix it, he paused and told a short story of a how he and Steve Wozniak used to pull pranks on students at Wozniak’s college dorm. Woz had invented a device that jammed TV signals and they used it to tease students when they were watching Star Trek. It brought some levity to the keynote, the problem was fixed, and Jobs effortlessly moved along.
Prepare and practice excessively. The clicker snafu that I just described teaches another great lesson for all presenters. Jobs casually laughed off the glitch, told a story, and got back to his presentation when his team resolved the issue. He never missed a beat and certainly didn’t get flustered. Jobs was legendary for his preparation. He would rehearse on stage for many hours over many weeks prior to the launch of a major product. He knew every detail of every demo and every font on every slide. As a result the presentation was delivered flawlessly. People often tell me, “I’m not as smooth as Jobs was.” Well, neither was he! Hours and hours of practice made Jobs look polished, casual, and effortless.

Avoid reading from notes. The introduction of the iPhone lasted about 80 minutes. Not once did Jobs read from a teleprompter or notecards. He had internalized the content so well that he didn’t need notes. During the demos, however, he did have a very short list of bullet points hidden from the audience’s view. Those bullets served as reminders and they were the only notes he relied upon.
Have fun. When Jobs first told the audience that Apple was going to introduce a mobile phone he said, “Here it is.” Instead of showing the iPhone, the slide displayed a photo of an iPod with an old-fashioned rotary dial on it. The audience got a kick out of it, laughing and clapping. They had been played and Jobs was enjoying their reaction. There were many funny moments, including a crank call. Jobs was demonstrating the maps feature to show how easy it was to find a location and call the number. He found a Starbucksnearby and called it. A woman picked up the phone and said, “Good morning, Starbucks. How can I help you?” Jobs said, “I’d like to order 4,000 lattes to go, please. No, just kidding. Wrong number. Bye bye.” The audience loved it. I’ve never seen Jobs enjoy himself more in a keynote.
Inspire your audience. Jobs liked to end his keynotes with something uplifting and inspiring. At the end of the iPhone presentation he said, “I didn’t sleep a wink last night. I’ve been so excited about today…There’s an old Wayne Gretzky quote that I love. ‘I skate to where the puck is going to be, not where it has been.’ We’ve always tried to do that at Apple since the very, very beginning. And we always will.”
Steve Jobs educated, entertained, informed, and inspired his audiences in every presentation. So can you. It takes work, planning, and creativity, but if someone is willing to listen to your ideas it’s worth the effort to make it great.

Source:
http://www.forbes.com/sites/carminegallo/2012/10/04/11-presentation-lessons-you-can-still-learn-from-steve-jobs/2/



Sekolah di Rumah (Daniel Mohammad Rosyid)



Sudah makin jelas, di abad internet ini belajar sebagai jantung pendidikan kian tak membutuhkan sekolah.


Google sudah banyak menggantikan guru. Tembok-tembok sekolah lambat tapi pasti bertumbangan diterjang internet. Sungguh mengherankan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih sibuk dengan bongkar pasang kurikulum, sementara sekolahnya sendiri justru terancam ambruk dan tergusur.

Gagasan deschooling (baca: sekolah di rumah) untuk pertama kali disampaikan Ivan Illich pada awal 1970-an saat internet belum ada. Illich berpendapat, begitu pendidikan diartikan sama dengan persekolahan dan dimonopoli oleh sekolah, pendidikan justru jadi barang langka. Akses ke pendidikan justru jadi terbatas. Begitu pendidikan diartikan lebih luas dan tak hanya persekolahan, pendidikan justru lebih mudah diakses. Mengapa? Karena sejumlah institusi di masyarakat, termasuk keluarga di rumah, bangkit untuk memberikan layanan pendidikan bagi warga.

Oleh karena itu, Kemdikbud keliru saat meletakkan taruhan masa depan bangsa ini di sekolah, apalagi di kurikulum. Taruhan terbesar kita justru kepada keluarga di rumah. Memperkuat keluarga jauh lebih efektif untuk mendidik warga muda. Kurikulum hanya resep makan siang di warung dekat rumah yang disebut sekolah. Keluarga di rumahlah yang menyediakan sarapan dan makan malam. Menaikkan upah buruh yang lebih layak akan memperkuat keluarga menyediakan sarapan dan makan malam yang bergizi. Makan siang tidak akan terlalu penting lagi.

Sugata Mitra, profesor teknologi pendidikan, mengatakan, sekolah sudah kuno, tidak kita butuhkan lagi. Dia mengusulkan perlunya self-organized learning environment (SOLE) sebagai model pendidikan baru. Saya ingin mempertegas bahwa keluarga adalah model SOLE terbaik yang pernah diciptakan di planet ini. Ki Hadjar Dewantara pun memandang keluarga adalah tempat belajar terbaik, terutama bagi warga belia.

Sekolah di rumah berfokus pada pemberdayaan diri dan keluarga. Adalah logika sekolah yang mengajarkan: makin banyak bersekolah kita akan makin terdidik. Makin banyak rumah sakit, kita makin sehat. Makin banyak kantor polisi, kita makin tertib. Makin banyak tentara dan tank, kita makin aman. Makin banyak masjid dan gereja, kita makin religius. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya: kita makin tidak terdidik, tidak sehat, tidak tertib, tidak aman, dan tidak religius.

Semangat belajar mandiri atau otodidak perlu dipromosikan dan dihargai. Syarat formalistik ijazah untuk berbagai jabatan harus kita buang. Ijazah bukan bukti kompetensi yang meyakinkan. Pendidikan nonformal dan informal perlu lebih kita hargai dan memperoleh perhatian serta alokasi anggaran yang lebih sepadan.

Barat jelas lebih tersekolahkan daripada bangsa ini. Kita mengadopsi konsep sekolah ini dari sana. Namun, kita lihat saat ini, Barat sedang terhuyung-huyung didera sejumlah krisis. Kita harus belajar dari kesalahan Barat. Kemdikbud tidak bisa kita biarkan meletakkan taruhan masa depan bangsa ini di sekolah, apalagi di kurikulum. Taruhan besar bangsa ini ada di rumah.

Daniel M Rosyid Penasihat Dewan Pendidikan Jawa Timur# Sumber Artikel: Harian Kompas April 2013# Sumber Gambar: http://borderlessnewsandviews.com/2013/01/a-public-teachers-thoughts-on-homeschooling/#